Sutradara : Peter Weir
Durasi : 128 Menit
Tahun Rilis : 1989
Tulisan ini telah diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa DIANNS dalam Buletin RADIKAL Edisi September 2019. (Akses lengkap Buletin disini.)
Akademi Welton telah berdiri
selama lebih dari 100 tahun, hal ini
membawa kepada terbentuknya satu
tradisi kuat yang dianut oleh sekolah.
Akademi Welton memiliki bangunan
fondasi yang dianalogikan sebagai 4 pilar dasar: Tradition, Honor, Discipline,
Excellence. Empat pilar dasar ini yang
kemudian diturunkan dalam aktivitas
bersekolah, mulai dari belajar-mengajar di kelas sampai keseharian muridnya
di luar ruang kelas.
Aktivitas belajar-mengajar di
kelas adalah salah satu aktivitas primer
yang ada di sekolah formal. Kehadiran
guru sebagai pengajar dan siswa sebagai
murid yang diajar merupakan titik poin
penting dalam melihat kualitas pendidikan di sekolah. Film yang memenangi
empat nominasi dalam Oscar, termasuk
Best Picture ini secara gamblang mem
-
bongkar bagaimana proses pendidikan
justru menuju proses dehumanisasi dan
berlawanan dengan semangat pendidikan yang membebaskan.
Dead Poets Society menggambarkan aktivitas belajar-mengajar
di kelas sebagai satu aktivitas yang
membosankan dan diulangulang. Disiplin ketat serta aturan penilaian yang
kaku justru menjadi bumerang yang
menghapus daya kreatif siswanya. Siswa
hanya dibiasakan mencatat, menghafal,
dan mengejar materi pelajaran dengan
tujuan memperoleh nilai yang tinggi.
Paulo Freire, seorang tokoh
pendidikan asal Brazil menyebut model pendidikan seperti ini sebagai ‘Pendidikan gaya Bank’ yang digambarkan sebagai kegiatan menabung dan
sederhananya murid adalah celengan
sedangkan guru adalah penabungnya. Pengetahuan, dalam model pendidikan gaya Bank adalah benda mati
dan dihibahkan dari seseorang yang
menganggap dirinya berpengetahuan
kepada mereka yang dianggap tidak
berpengetahuan. Relasi yang terbentuk dari dua pelaku model pendidikan
ini kemudian adalah relasi hierarkis sehingga bersifat menindas.
John Keating merupakan
seorang guru sastra baru di sekolah.
Pria alumni dari Akademi Welton ini membawa perubahan yang luar biasa
pada murid ajarannya. Salah satu narasi
yang terus digunakan oleh John Keating ketika mengajar di kelas adalah menyebut siswanya dengan sebutan free thinker, yaitu pemikir bebas. Kehadiran
John Keating menggugat satu fondasi
kuat dan membentuk murid menjadi
obyek pasif dari pendidikan di Akademi
Welton selama ini.
Pada pertemuan pertama misalnya, John Keating membawa siswanya
untuk belajar di luar kelas. Pada pertemuan ini, John memperkenalkan satu
istilah yang bagi saya merupakan gambaran besar tentang film ini, yaitu ‘Carpe
Diem’ atau Seize the day yang berarti
Petiklah hari (Raihlah hari ini). Pelajaran
tersebut sangat mengena bagi muridnya karena membawa mereka hidup
dalam keseharian, tidak semata-mata
melihat hal besar yang jauh dari mereka.
John Keating adalah tokoh protagonis
yang posisinya mengguggat model
sistem pendidikan semacam ini. Saat
pertama kali mengajar di ruang kelas,
Keating meminta salah seorang siswa
untuk membaca kolom pengantar dari
buku pelajaran, yaitu Understanding
Poetry. Pengantar buku tersebut menaruh puisi dalam bentuk grafik horizontal dan vertikal, lalu berupaya memberi
gambaran kepada pembaca tentang
bagaimana menilai sebuah puisi dalam
bentuk angka. Keating menggambar
grafik tersebut di papan tulis sambil diikuti oleh
seluruh murid di kelas. Setelah si murid
selesai membacakan kata pengantar
tersebut, tidak diduga Keating menyuruh seluruh muridnya untuk merobek
halaman buku yang berisi kata pengantar tersebut. Sontak seluruh murid
di kelas tersebut kaget sembari ragu-ragu merobeknya
Scene tersebut menurutku
adalah salah satu scene yang sangat
kuat dalam Dead Poets Society. Di sini
Keating hendak menggugat satu bangunan kokoh yang telah mengakar
dalam sistem pendidikan, yaitu pendidikan yang hendak menyeragamkan. Murid dituntut untuk menjadi sama dalam
berpikir, dikenalkan pada satu paradigma yang datang jauh dari keseharian
mereka. Pada akhirnya murid tidak dapat mengkontensktualkan
apa yang dipelajari dan hanya mengikuti paradigma yang sudah ada. Eksistensi mereka sebagai individu yang unik
disangkal dan diseragamkan dalam satu payung
cara berpikir. Keating mendorong muridnya untuk
mengeksplorasi diri dalam
cara belajarnya. Alih-alih
berpatok pada buku pelajaran, iklim yang dibangun
adalah bagaimana setiap
murid dapat mengenal
sastra dengan caranya
sendiri sesuai dengan latar belakang mereka yang beragam.
Dalam Dead Poets Society,
siswa adalah manusia yang diinvestasikan oleh orang tua. Todd Anderson
(diperankan oleh Ethan Hawke) adalah
salah seorang siswa yang dikirimkan
oleh orang tuanya untuk bersekolah di
Akademi Welton. Sosok yang digambarkan berkarakter pemalu tersebut
memikul beban di pundaknya karena
dibayang-bayangi oleh sosok kakaknya
yang merupakan alumni sukses lulusan
Akademi Walton. Hal itu mendorong
Todd tidak dapat menjadi dirinya sendiri
secara utuh.
Tidak hanya Todd, Neill Perry (diperankan oleh Robert Sean Leonard)
adalah salah satu korban dalam sistem
pendidikan. Neil termasuk salah satu
siswa yang beruntung, karena meskipun tidak berasal dari keluarga yang
kaya, Ia dapat mengenyam pendidikan di Akademi Walton. Setidaknya hal
tersebut yang kerap dinarasikan oleh
orang tuanya pada Neil. Neil dituntut
oleh ayahnya untuk fokus dalam bidang
akademiknya agar cepat lulus sehingga
Neil yang sebenarnya sangat tertarik
dalam teater justru dipaksa meninggalkan ekstrakurikuler teaternya. Relasi
orang tua dan anak adalah relasi kuasa
yang akhirnya tidak dapat membuat si
anak menjadi dirinya sendiri, melainkan
menjadi obyek yang diproyeksikan sesuai dengan kehendak si orang tua.
Meskipun Dead Poets Society
berusaha mengkritik sistem pendidikan,
khususnya relasi antara guru dan murid. Film ini tetap meninggalkan celah.
Pembagian atas dua kelompok bertentangan yaitu guru dan murid yang
berusaha dibangun justru tidak begitu
tampak dalam film ini. Meskipun Keating
merupakan korban karena cara mengajarnya tidak disukai oleh pihak sekolah,
ia digambarkan sebagai sosok heroik
bagi muridnya. Bagaimanapun, pendidikan yang membebaskan terletak pada
upaya pemecahan masalah kontradiksi
guru dan murid. Sehingga guru secara
bersamaan adalah murid, begitu pula
murid secara bersamaan adalah guru.
Guru dan murid adalah subyek aktif dalam pendidikan, sehingga murid
belajar dari guru, begitu juga guru belajar dari muridnya. Dalam Dead Poets
Society, hampir tidak ada basis refleksi
dari John Keating yang diperlihatkan,
sehingga kita tidak melihat bagaimana
si guru juga belajar dari murid. Bagi saya ini bermasalah karena belajar mengajar
hanya bersifat satu arah, yaitu dari guru
kepada murid.
Dead Poets Society sangat relevan ketika melihat sistem pendidikan
kita hari ini. Lembaga pendidikan (dalam
hal ini sekolah) saat ini tak ayal menjadi
pabrik yang menyiapkan siswanya agar
sesuai dengan masyarakat industri. Relasi antara guru dan murid yang terjadi
selama ini dapat menjadi pintu untuk
merefleksikan bagaimana fungsi pendidikan sesungguhnya, sehingga salah
satu syarat pendidikan yang membebaskan adalah membongkar dua kelompok yang bertentangan antara guru
dan murid. Apakah BENAR guru itu yang paling tahu dan murid adalah
yang paling tidak tahu (bodoh)?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar