Jumat, 11 Oktober 2019

Dead Poets Society: Menggugat Relasi Guru dan Murid

Sutradara : Peter Weir
Durasi : 128 Menit 
Tahun Rilis : 1989

Tulisan ini telah diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa DIANNS dalam Buletin RADIKAL Edisi September 2019. (Akses lengkap Buletin disini.)


Akademi Welton telah berdiri selama lebih dari 100 tahun, hal ini membawa kepada terbentuknya satu tradisi kuat yang dianut oleh sekolah. Akademi Welton memiliki bangunan fondasi yang dianalogikan sebagai 4 pilar dasar: Tradition, Honor, Discipline, Excellence. Empat pilar dasar ini yang kemudian diturunkan dalam aktivitas bersekolah, mulai dari belajar-mengajar di kelas sampai keseharian muridnya di luar ruang kelas. 

Aktivitas belajar-mengajar di kelas adalah salah satu aktivitas primer yang ada di sekolah formal. Kehadiran guru sebagai pengajar dan siswa sebagai murid yang diajar merupakan titik poin penting dalam melihat kualitas pendidikan di sekolah. Film yang memenangi empat nominasi dalam Oscar, termasuk Best Picture ini secara gamblang mem - bongkar bagaimana proses pendidikan justru menuju proses dehumanisasi dan berlawanan dengan semangat pendidikan yang membebaskan.


Dead Poets Society menggambarkan aktivitas belajar-mengajar di kelas sebagai satu aktivitas yang membosankan dan diulangulang. Disiplin ketat serta aturan penilaian yang kaku justru menjadi bumerang yang menghapus daya kreatif siswanya. Siswa hanya dibiasakan mencatat, menghafal, dan mengejar materi pelajaran dengan tujuan memperoleh nilai yang tinggi. 

Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brazil menyebut model pendidikan seperti ini sebagai ‘Pendidikan gaya Bank’ yang digambarkan sebagai kegiatan menabung dan sederhananya murid adalah celengan sedangkan guru adalah penabungnya. Pengetahuan, dalam model pendidikan gaya Bank adalah benda mati dan dihibahkan dari seseorang yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak berpengetahuan. Relasi yang terbentuk dari dua pelaku model pendidikan ini kemudian adalah relasi hierarkis sehingga bersifat menindas.

John Keating merupakan seorang guru sastra baru di sekolah. Pria alumni dari Akademi Welton ini membawa perubahan yang luar biasa pada murid ajarannya. Salah satu narasi yang terus digunakan oleh John Keating ketika mengajar di kelas adalah menyebut siswanya dengan sebutan free thinker, yaitu pemikir bebas. Kehadiran John Keating menggugat satu fondasi kuat dan membentuk murid menjadi obyek pasif dari pendidikan di Akademi Welton selama ini. 

Pada pertemuan pertama misalnya, John Keating membawa siswanya untuk belajar di luar kelas. Pada pertemuan ini, John memperkenalkan satu istilah yang bagi saya merupakan gambaran besar tentang film ini, yaitu ‘Carpe Diem’ atau Seize the day yang berarti Petiklah hari (Raihlah hari ini). Pelajaran tersebut sangat mengena bagi muridnya karena membawa mereka hidup dalam keseharian, tidak semata-mata melihat hal besar yang jauh dari mereka. John Keating adalah tokoh protagonis yang posisinya mengguggat model sistem pendidikan semacam ini. Saat pertama kali mengajar di ruang kelas, Keating meminta salah seorang siswa untuk membaca kolom pengantar dari buku pelajaran, yaitu Understanding Poetry. Pengantar buku tersebut menaruh puisi dalam bentuk grafik horizontal dan vertikal, lalu berupaya memberi gambaran kepada pembaca tentang bagaimana menilai sebuah puisi dalam bentuk angka. Keating menggambar grafik tersebut di papan tulis sambil diikuti oleh seluruh murid di kelas. Setelah si murid selesai membacakan kata pengantar tersebut, tidak diduga Keating menyuruh seluruh muridnya untuk merobek halaman buku yang berisi kata pengantar tersebut. Sontak seluruh murid di kelas tersebut kaget sembari ragu-ragu merobeknya

Scene tersebut menurutku adalah salah satu scene yang sangat kuat dalam Dead Poets Society. Di sini Keating hendak menggugat satu bangunan kokoh yang telah mengakar dalam sistem pendidikan, yaitu pendidikan yang hendak menyeragamkan. Murid dituntut untuk menjadi sama dalam berpikir, dikenalkan pada satu paradigma yang datang jauh dari keseharian mereka. Pada akhirnya murid tidak dapat mengkontensktualkan apa yang dipelajari dan hanya mengikuti paradigma yang sudah ada. Eksistensi mereka sebagai individu yang unik disangkal dan diseragamkan dalam satu payung cara berpikir. Keating mendorong muridnya untuk mengeksplorasi diri dalam cara belajarnya. Alih-alih berpatok pada buku pelajaran, iklim yang dibangun adalah bagaimana setiap murid dapat mengenal sastra dengan caranya sendiri sesuai dengan latar belakang mereka yang beragam. 

Dalam Dead Poets Society, siswa adalah manusia yang diinvestasikan oleh orang tua. Todd Anderson (diperankan oleh Ethan Hawke) adalah salah seorang siswa yang dikirimkan oleh orang tuanya untuk bersekolah di Akademi Welton. Sosok yang digambarkan berkarakter pemalu tersebut memikul beban di pundaknya karena dibayang-bayangi oleh sosok kakaknya yang merupakan alumni sukses lulusan Akademi Walton. Hal itu mendorong Todd tidak dapat menjadi dirinya sendiri secara utuh. 

Tidak hanya Todd, Neill Perry (diperankan oleh Robert Sean Leonard) adalah salah satu korban dalam sistem pendidikan. Neil termasuk salah satu siswa yang beruntung, karena meskipun tidak berasal dari keluarga yang kaya, Ia dapat mengenyam pendidikan di Akademi Walton. Setidaknya hal tersebut yang kerap dinarasikan oleh orang tuanya pada Neil. Neil dituntut oleh ayahnya untuk fokus dalam bidang akademiknya agar cepat lulus sehingga Neil yang sebenarnya sangat tertarik dalam teater justru dipaksa meninggalkan ekstrakurikuler teaternya. Relasi orang tua dan anak adalah relasi kuasa yang akhirnya tidak dapat membuat si anak menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi obyek yang diproyeksikan sesuai dengan kehendak si orang tua.

Meskipun Dead Poets Society berusaha mengkritik sistem pendidikan, khususnya relasi antara guru dan murid. Film ini tetap meninggalkan celah. Pembagian atas dua kelompok bertentangan yaitu guru dan murid yang berusaha dibangun justru tidak begitu tampak dalam film ini. Meskipun Keating merupakan korban karena cara mengajarnya tidak disukai oleh pihak sekolah, ia digambarkan sebagai sosok heroik bagi muridnya. Bagaimanapun, pendidikan yang membebaskan terletak pada upaya pemecahan masalah kontradiksi guru dan murid. Sehingga guru secara bersamaan adalah murid, begitu pula murid secara bersamaan adalah guru. Guru dan murid adalah subyek aktif dalam pendidikan, sehingga murid belajar dari guru, begitu juga guru belajar dari muridnya. Dalam Dead Poets Society, hampir tidak ada basis refleksi dari John Keating yang diperlihatkan, sehingga kita tidak melihat bagaimana si guru juga belajar dari murid. Bagi saya ini bermasalah karena belajar mengajar hanya bersifat satu arah, yaitu dari guru kepada murid.

Dead Poets Society sangat relevan ketika melihat sistem pendidikan kita hari ini. Lembaga pendidikan (dalam hal ini sekolah) saat ini tak ayal menjadi pabrik yang menyiapkan siswanya agar sesuai dengan masyarakat industri. Relasi antara guru dan murid yang terjadi selama ini dapat menjadi pintu untuk merefleksikan bagaimana fungsi pendidikan sesungguhnya, sehingga salah satu syarat pendidikan yang membebaskan adalah membongkar dua kelompok yang bertentangan antara guru dan murid. Apakah BENAR guru itu yang paling tahu dan murid adalah yang paling tidak tahu (bodoh)? 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar