Senin, 14 Oktober 2019

Balada Harian

Belakangan aku merasa sulit untuk fokus. Aku bisa, pura-pura sedang mendengar kan omongan seseorang, padahal aku hampir sama sekali tidak mendengarkannya. Aku bisa memasang wajah bahwa aku sedang memerhatikan seseorang yang sedang bercerita panjang lebar, padahal hampir tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut nya masuk ke kupingku. Aku bisa membuka ponselku, memiringkannya ke posisi horizontal, memutar film berdurasi dua jam lebih, tapi hampir tidak menonton nya.

I was dreaming of the past
and my heart was beating fast
I began to lose control
I began to lose control

Di atas adalah kutipan dari pembuka lagu John Lennon yang berjudul Jealous Guy. Deretan lagu John Lennon memenuhi antrian lagu yang kuputar di Spotify dalam beberapa bulan terakhir. Mendengar lagu adalah rutinitas keseharianku. Aku mendengarkan lagu mulai dari di atas kasur, kamar mandi, ruang kelas, sampai warung kopi. Di mana-mana. Tapi mendengarkan lagu sewaktu mengendarai sepeda motor menggunakan earphone adalah pengalaman khusyuk tersendiri. Ketika jalanan sedang senggang, tidak begitu bising (biasa nya, sih, malam hari), Kuatur bunyinya begitu kencang sampai-sampai aku tidak bisa mendengar, sekecil apapun itu, suara kendaraan yang lalu-lalang.

Dari deretan lagu John Lennon yang kudengar secara acak di Spotify, aku menikmati setiap alunan nadanya, bunyi-bunyian alat musik, termasuk bagaimana John bernyanyi. Tapi aku hampir sama sekali tidak menaruh perhatian pada isi dari lagu tersebut.

Jealous Guy adalah salah satu lagu favoritku, tapi baru tadi malam, aku mencari lirik nya di Internet. 
Tubuhku seperti meleleh setelah  tahu. Aku hanyut dalam deretan kata yang Ia tulis.  Tiba-tiba aku merasakan perasaan pria yang sedang Ia nyanyikan.

Aku tidak sedang menganalisanya secara semiotik, atau apapun itu. Aku tidak sedang bicara tentang Jealous Guy yang ditulis oleh John Lennon, seolah-olah meromantisasi kekerasan yang dilakukan oleh seorang pria dalam hubungan dengan pasangannya. Tidak, aku sedang tidak ingin bicara soal itu sekarang.

Aku sedang bicara bahwa rasanya sulit sekali, belakangan, untuk mendapatkan fokus ketika sedang mengerjakan atau melakukan sesuatu. Aku bisa, sedang bicara panjang-lebar, lalu benar-benar lupa sedang bicara apa barusan. Aku bisa tiba-tiba kehilangan kontrol atas isi kepalaku, atas gerak motorik tubuhku, atas diriku. Tentu saja terkesan hiperbola. Mungkin aku memang sedang melebih-lebihkannya. Entah. Tapi baru kali ini rasanya aku menulis bisa sangat mengalir. Seperti sungai yang panjang dan jernih (sebelum dikotori oleh perusahan industri tekstil atau terhalangan fondasi flyover jalan layang).

Aku merasa jadi pasif belakangan. Gairah hidup sedang hilang entah kemana. Aku tidak bicara dalam koridor ‘gue bosen hidup, mau mati aje’. Tapi rasanya belakangan ini, setiap hari nya, setiap jam nya, setiap detik yang kulalui itu sama saja. Tidak ada beda!

Problem ini sering menyerang seorang individu, khususnya mereka yang dari kecil hidup dalam lingkungan masyarakat urban. Dengan keseharian yang padat, jam kerja yang kaku, jalanan macet, dan masih banyak lainnya. Kadang, seorang pengendara motor bisa tidak berhenti ngedumel dalam hatinya setelah tidak sengaja menabrak bagian jalan yang berlubang kecil. Mereka bisa mengumpat bosnya yang bersikap sangat brengsek hari ini, lalu bicara soal harga rumah yang sulit dijangkau, sampai-sampai soal penyesalan atas keputusan-keputusan yang pernah mereka ambil dalam hidupnya. Mereka bisa ngedumel soal watak Negara yang koersif lalu kemudian menangisi dirinya yang selama ini tidak pernah merasakan kehadiran Negara secara positif.

Ya. Mereka teralienasi. Tercerabut dari sekitarnya. Tiba-tiba mereka tersadar bahwa mereka tidak pernah benar-benar mengenal kawan kerjanya selama ini.

Mereka pergi ke sudut kamarnya, mengambil putung rokok sisa tadi sore yang belum dihabiskan, lalu menyalakannya. Sisa malam mereka  kemudian mereka habiskan untuk menangisi hampir semua yang terjadi pada dirinya. Mereka tidak pernah benar-benar tahu untuk apa mencari uang dan mau diapakan uangnya. Kemudian di kepalanya terlintas soal orang tua di rumah. Mereka merengek semakin kencang. Ingin pulang dan memeluk kaki kedua orang tuanya.

Jam dinding tepat di atas kepalaku menunjukan pukul setengah empat pagi. Aku tidak bisa tidur karena sedang kesal. Udara di Kota Malang begitu gerah. Kepalaku ikut panas.

***

Dua hari yang lalu begitu menyenangkan. Bisa kembali memasak, membuka kembali kerja-kerja yang sempat kuangguri (Iye, dibikin jadi anggur). Membuka ponsel terasa begitu menyenangkan bagiku. Hal kecil, sepele, sangat minor dalam sejarahku dalam 22 tahun hidup dapat membuatku kembali merasa senang dalam melangkahkan kaki.

Ada satu hari aku bisa berkuasa atas diri, tidak termakan oleh waktu. Tidak berpikir soal pergi merana sendirian ke Alaska. Hanya butuh satu hari yang sederhana. Satu hari yang tidak panjang, untuk kemudian kembali percaya bahwa memetik hal-hal baik dari dunia yang begitu brengsek hari ini masih sangat memungkinkan.

Terimakasih banyak. Kalau tidak berujung baik, semoga lekas bergabung menjadi bagian sejarah lain nya yang biasa saja. 

Amor fati

Malang, 14 Oktober 2019.

3 komentar: