Kepada Bagas Tahun 2030
Gas, aku tidak pandai dalam urusan sapa-menyapa. Istilah halo atau hai rasanya sudah lama aku tinggalkan. Mungkin beradu kepalan tangan cukup untuk menyapa? Maaf mengganggu waktumu. Tapi sepertinya aku harus bicara sesuatu padamu. Waktuku tidak banyak.
Bagaimana
kabarmu? Kabarmu “sesungguh”-nya tentu, maksudku.
Aku
harap kau baik-baik saja. Barangkali masih bernafas meski aku tidak tahu
apakah sebenarnya kau merasa hidup atau tidak.
Aku
tidak bisa melihatmu dengan jelas. Pandanganku sedikit buram. Kau pasti paham
kalau masa depan memang sesuatu yang tidak tampak jelas. Tapi aku tidak
menyangka akan segelap ini. Tidak apa lah. Aku masih bisa sedikit melihat.
Oh
iya, maaf bicaraku jadi kemana-mana. Jadi, bagaimana kabarmu? Bagaimana kau
menjalani senin sampai minggumu? 10 tahun adalah waktu yang singkat, bukan? 23
tahun sudah aku lewati tapi rasanya baru kemarin aku memetik senar gitar pertamaku, gitar
akustik merk Yamaha yang kubeli waktu kelas 5 SD. Aku masih ingat semangat
yang membara ketika hari pertama aku membawanya ke sekolah karena hendak mendapat
perhatian perempuan yang kutaksir. Apa kau masih ingat?
Kalau
kau tidak ingat, tidak apa-apa. Mungkin karena kau sudah melewati terlalu banyak
hari dan tahun. Pasti banyak peristiwa, kan? Hahaha. Aku tidak sabar untuk mengalaminya.
Kau
tidak masalah kan aku ganggu malam-malam begini? Kuperhatikan kau masih suka
begadang, ya? Kantung matamu kelihatan jauh lebih buruk dari kantung mataku
sekarang. Tidak apa-apa. Yang penting jangan lupa untuk minum air putih yang
banyak.
Bagaimana
pekerjaanmu? Sebrengsek apa bosmu di kantor? Atau kau bosnya sekarang? Sabar.
Jangan kau jawab pertanyaanku sekarang. Waktuku tidak banyak.
Sebenarnya
kehadiranku di sini ingin membantumu mengingat. Jangan salah sangka. Aku tidak
hendak mengguruimu. Kau tentu tahu lebih banyak dariku. Setidaknya surplus 10
tahun masa hidup pasti berperan banyak. Aku hanya ingin membantumu untuk mengingat
kesadaranmu dulu. Kesadaran yang kumiliki saat ini. Sekarang, biarkan aku
bicara.
Gas,
beberapa waktu lalu, sekitar pertengahan menjelang akhir tahun 2020, kau berada
di sebuah warung pinggiran jalan daerah sekolahmu dulu. Kau tertahan dalam
sebuah obrolan bersama seorang kawan yang sudah lama kau kenal. Sebenarnya kau
sudah ingin pulang, tentu saja karena waktu itu sedang pandemi covid-19. Yang
ada di pikiranmu pada saat itu hanya keinginan untuk segera mandi.
Malam
itu kau diminta untuk merekomendasikan judul-judul film yang sudah pernah kau
tonton. Kawanmu meminta rekomendasi film ber-genre romansa.
“Kalau
bisa yang pop banget lah, Gas. Yang bikin orang kalau nonton jadi pengen banget
punya pacar. Film yang bisa bikin gua jadi merasa kesepian banget,” tambahnya.
Tentu
saja kau tidak merekomendasikan In The Mood for Love karya Wong Kar-wai padanya,
atau kisah romansa The Lobster yang sangat sureal nan absurd. Tidak pula
terpikir olehmu untuk merekomendasikannya film Amour yang sebenarnya
bicara perkara eksistensial ketimbang cerita pengalaman bercinta yang
menyenangkan setelah makan malam. Tentu kau masih suka merekomendasikan
film-film yang sudah kau tonton kepada temanmu, bukan?
Wah.
Atau mungkin sekarang kau sudah sibuk memproduksi film-mu sendiri? Atau tidak?
Atau belum? Kalau memang tidak, tidak apa-apa. Tapi aku harap kau masih
mencintai film. Karena adalah film yang menemani masa-masa mudamu ketika orangtuamu
tidak punya waktu untuk menemani di rumah. Setidaknya kau harus ingat kalau
kau dulu punya bioskop sendiri yang kau beri nama Tambun Theater.
Aku rindu masa-masa di Tambun Theater
bersama kawan-kawan. Kau pasti juga.
Gas,
kalau memang kau tidak hidup sesuai dengan harapanmu dulu, tidak apa-apa.
Jangan kecewa. Kau sebenarnnya sudah lama mempersiapkan diri apabila skenario
mimpi-mimpimu gagal.
Malam
itu, setelah merekomendasikan hasil tontonan film-film kepada kawanmu, kau sendiri
sudah bilang bahwa mungkin menjadi dewasa berarti menerima kenyataan bahwa kau
tidak akan hidup sesuai dengan apa yang kau kehendaki. Malam itu kau bilang kalau
itu terjadi, kau sudah siap, meski sesungguhnya kau sadar kalau kau tidak
benar-benar siap.
Kau
babak belur tahun itu. Diberhentikan dari pekerjaan tanpa sekecil-kecilnya
peringatan. Menjelang akhir masa kuliah, kau harus mendekam diri di rumah. Kau
bahkan hanya pamitan sebentar kepada kawan perkuliahanmu. Desakan finansial perlahan menggerogoti keluargamu. Kau tampak sangat buruk dalam mengatasi perasaan cemasmu.
Kesadaran atas kegagalanmu sendiri menciptakan kesadaran lain: bahwa mungkin kau
memang tidak pantas menghidupi hidup yang kau cita-citakan.
Pada
malam itu, kau sadar bahwa dunia tidak bekerja sesuai dengan apa yang kau
inginkan. Hidup sangat rumit. Menyesakkan. Selalu ada kemungkinan kau akan kena
libas kapanpun dan dimanapun. Setidaknya, kau masih percaya bahwa masih ada hal-hal kecil yang patut diperjuangkan. Meski hidup adalah tragedi, kau masih
berkeinginan untuk menghidupinya.
Gas,
waktuku tidak banyak.
Pada
tanggal 5 Oktober 2020, sebuah lembaga politik yang menamakan dirinya sebagai Dewan
Perwakilan Rakyat mengesahkan sebuah Undang-Undang. Cipta Kerja namanya. Orang-orang lebih
suka menyebutnya sebagai Undang-Undang CILAKA karena potensi kemampuannya yang dapat menimbulkan
celaka dengan daya hancurnya. Kau akan ingat hari ini sebagai hari dimana kau sudah kehabisan
akal tentang bagaimana negara ini mempelakukan warganya, termasuk dirimu. Bayangan
skenario ke depan tampak sangat menakutkan ketimbang potensi sebagai cerita
yang menarik untuk dijadikan sebuah skenario film. Aku belum merasakannya, Kau
yang sudah.
Gas,
ingatlah hari ini. Jangan bayangkan ingatlah hari ini dalam nuansa lagu
Ingatlah Hari Ini yang dinyanyikan oleh Group Band Project Pop. Apabila
datang waktu dimana kau merasa asing, apabila datang waktu dimana kau merasa
membenci dirimu sendiri. Ingatlah. Bahwa hari ini adalah hari dimana Negara
datang menikammu. Tidak dari belakang, melainkan dari depan dan tikamannya beribu-ribu
kali. Ingat namanya, ingat partainya, ingat siapa yang berkuasa hari ini.
Maki
mereka dengan segala istilah umpatan yang kau kuasai. Ingatlah bahwa
kebencianmu atas banyak hal bukan hanya perkara alamiahmu sebagai manusia.
Ingatlah bahwa ketukan palu hari pada sidang paripurna di DPR hari ini adalah tindak kejatahan paling
jahat yang pernah kau saksikan. Ingatlah bahwa mereka tidak hanya menguasai
masa lampaumu, tapi mereka juga menguasai masa depanmu. Dan mereka tidak akan
pernah selesai mengganggumu.
Gas,
waktuku tidak banyak.
Jika
sudah sampai pada masanya. Masa dimana kecemasan itu kembali menyerangmu. Aku harap
ada sedikit ingatan di kepalamu untuk membuka kembali tulisan ini.
Gas, jangan berhenti melawan. Lawanlah sebisamu. Lawanlah meski itu berarti sekedar bertahan melewati hari demi hari. Akan ada banyak film yang bakal membantumu kabur sejenak dari apapun.
Semua akan baik-baik saja.
Bekasi, 6 Oktober 2020
Bagas
jatuh cinta sama tulisan ini
BalasHapus