Senin, 05 Oktober 2020

Sebagai Pengingat Hari Ini

Kepada Bagas Tahun 2030

Gas, aku tidak pandai dalam urusan sapa-menyapa. Istilah halo atau hai rasanya sudah lama aku tinggalkan. Mungkin beradu kepalan tangan cukup untuk menyapa? Maaf mengganggu waktumu. Tapi sepertinya aku harus bicara sesuatu padamu. Waktuku tidak banyak.

Bagaimana kabarmu? Kabarmu “sesungguh”-nya tentu, maksudku.

Aku harap kau baik-baik saja. Barangkali masih bernafas meski aku tidak tahu apakah sebenarnya kau merasa hidup atau tidak.

Aku tidak bisa melihatmu dengan jelas. Pandanganku sedikit buram. Kau pasti paham kalau masa depan memang sesuatu yang tidak tampak jelas. Tapi aku tidak menyangka akan segelap ini. Tidak apa lah. Aku masih bisa sedikit melihat.

Oh iya, maaf bicaraku jadi kemana-mana. Jadi, bagaimana kabarmu? Bagaimana kau menjalani senin sampai minggumu? 10 tahun adalah waktu yang singkat, bukan? 23 tahun sudah aku lewati tapi rasanya baru kemarin aku memetik senar gitar pertamaku, gitar akustik merk Yamaha yang kubeli waktu kelas 5 SD. Aku masih ingat semangat yang membara ketika hari pertama aku membawanya ke sekolah karena hendak mendapat perhatian perempuan yang kutaksir. Apa kau masih ingat?

Kalau kau tidak ingat, tidak apa-apa. Mungkin karena kau sudah melewati terlalu banyak hari dan tahun. Pasti banyak peristiwa, kan? Hahaha. Aku tidak sabar untuk mengalaminya.

Kau tidak masalah kan aku ganggu malam-malam begini? Kuperhatikan kau masih suka begadang, ya? Kantung matamu kelihatan jauh lebih buruk dari kantung mataku sekarang. Tidak apa-apa. Yang penting jangan lupa untuk minum air putih yang banyak.

Bagaimana pekerjaanmu? Sebrengsek apa bosmu di kantor? Atau kau bosnya sekarang? Sabar. Jangan kau jawab pertanyaanku sekarang. Waktuku tidak banyak.

Sebenarnya kehadiranku di sini ingin membantumu mengingat. Jangan salah sangka. Aku tidak hendak mengguruimu. Kau tentu tahu lebih banyak dariku. Setidaknya surplus 10 tahun masa hidup pasti berperan banyak. Aku hanya ingin membantumu untuk mengingat kesadaranmu dulu. Kesadaran yang kumiliki saat ini. Sekarang, biarkan aku bicara.

Gas, beberapa waktu lalu, sekitar pertengahan menjelang akhir tahun 2020, kau berada di sebuah warung pinggiran jalan daerah sekolahmu dulu. Kau tertahan dalam sebuah obrolan bersama seorang kawan yang sudah lama kau kenal. Sebenarnya kau sudah ingin pulang, tentu saja karena waktu itu sedang pandemi covid-19. Yang ada di pikiranmu pada saat itu hanya keinginan untuk segera mandi.

Malam itu kau diminta untuk merekomendasikan judul-judul film yang sudah pernah kau tonton. Kawanmu meminta rekomendasi film ber-genre romansa.

“Kalau bisa yang pop banget lah, Gas. Yang bikin orang kalau nonton jadi pengen banget punya pacar. Film yang bisa bikin gua jadi merasa kesepian banget,” tambahnya.

Tentu saja kau tidak merekomendasikan In The Mood for Love karya Wong Kar-wai padanya, atau kisah romansa The Lobster yang sangat sureal nan absurd. Tidak pula terpikir olehmu untuk merekomendasikannya film Amour yang sebenarnya bicara perkara eksistensial ketimbang cerita pengalaman bercinta yang menyenangkan setelah makan malam. Tentu kau masih suka merekomendasikan film-film yang sudah kau tonton kepada temanmu, bukan?

Wah. Atau mungkin sekarang kau sudah sibuk memproduksi film-mu sendiri? Atau tidak? Atau belum? Kalau memang tidak, tidak apa-apa. Tapi aku harap kau masih mencintai film. Karena adalah film yang menemani masa-masa mudamu ketika orangtuamu tidak punya waktu untuk menemani di rumah. Setidaknya kau harus ingat kalau kau dulu punya bioskop sendiri yang kau beri nama Tambun Theater.  Aku rindu masa-masa di Tambun Theater bersama kawan-kawan. Kau pasti juga.

Gas, kalau memang kau tidak hidup sesuai dengan harapanmu dulu, tidak apa-apa. Jangan kecewa. Kau sebenarnnya sudah lama mempersiapkan diri apabila skenario mimpi-mimpimu gagal.

Malam itu, setelah merekomendasikan hasil tontonan film-film kepada kawanmu, kau sendiri sudah bilang bahwa mungkin menjadi dewasa berarti menerima kenyataan bahwa kau tidak akan hidup sesuai dengan apa yang kau kehendaki. Malam itu kau bilang kalau itu terjadi, kau sudah siap, meski sesungguhnya kau sadar kalau kau tidak benar-benar siap.

Kau babak belur tahun itu. Diberhentikan dari pekerjaan tanpa sekecil-kecilnya peringatan. Menjelang akhir masa kuliah, kau harus mendekam diri di rumah. Kau bahkan hanya pamitan sebentar kepada kawan perkuliahanmu. Desakan finansial perlahan menggerogoti keluargamu. Kau tampak sangat buruk dalam mengatasi perasaan cemasmu. Kesadaran atas kegagalanmu sendiri menciptakan kesadaran lain: bahwa mungkin kau memang tidak pantas menghidupi hidup yang kau cita-citakan.

Pada malam itu, kau sadar bahwa dunia tidak bekerja sesuai dengan apa yang kau inginkan. Hidup sangat rumit. Menyesakkan. Selalu ada kemungkinan kau akan kena libas kapanpun dan dimanapun. Setidaknya, kau masih percaya bahwa masih ada hal-hal kecil yang patut diperjuangkan. Meski hidup adalah tragedi, kau masih berkeinginan untuk menghidupinya.

Gas, waktuku tidak banyak.

Pada tanggal 5 Oktober 2020, sebuah lembaga politik yang menamakan dirinya sebagai Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan sebuah Undang-Undang. Cipta Kerja namanya. Orang-orang lebih suka menyebutnya sebagai Undang-Undang CILAKA karena potensi kemampuannya yang dapat menimbulkan celaka dengan daya hancurnya. Kau akan ingat hari ini sebagai hari dimana kau sudah kehabisan akal tentang bagaimana negara ini mempelakukan warganya, termasuk dirimu. Bayangan skenario ke depan tampak sangat menakutkan ketimbang potensi sebagai cerita yang menarik untuk dijadikan sebuah skenario film. Aku belum merasakannya, Kau yang sudah.

Gas, ingatlah hari ini. Jangan bayangkan ingatlah hari ini dalam nuansa lagu Ingatlah Hari Ini yang dinyanyikan oleh Group Band Project Pop. Apabila datang waktu dimana kau merasa asing, apabila datang waktu dimana kau merasa membenci dirimu sendiri. Ingatlah. Bahwa hari ini adalah hari dimana Negara datang menikammu. Tidak dari belakang, melainkan dari depan dan tikamannya beribu-ribu kali. Ingat namanya, ingat partainya, ingat siapa yang berkuasa hari ini.

Maki mereka dengan segala istilah umpatan yang kau kuasai. Ingatlah bahwa kebencianmu atas banyak hal bukan hanya perkara alamiahmu sebagai manusia. Ingatlah bahwa ketukan palu hari pada sidang paripurna di DPR hari ini adalah tindak kejatahan paling jahat yang pernah kau saksikan. Ingatlah bahwa mereka tidak hanya menguasai masa lampaumu, tapi mereka juga menguasai masa depanmu. Dan mereka tidak akan pernah selesai mengganggumu.

Gas, waktuku tidak banyak.

Jika sudah sampai pada masanya. Masa dimana kecemasan itu kembali menyerangmu. Aku harap ada sedikit ingatan di kepalamu untuk membuka kembali tulisan ini.

Gas, jangan berhenti melawan. Lawanlah sebisamu. Lawanlah meski itu berarti sekedar bertahan melewati hari demi hari. Akan ada banyak film yang bakal membantumu kabur sejenak dari apapun.


Semua akan baik-baik saja.


Bekasi, 6 Oktober 2020



Bagas

1 komentar: